gaulislam edisi 185/tahun ke-4 (5 Jumadil Akhir 1432 H/ 9 Mei 2011)
Sobat muda muslim, udah lama kayaknya gue absen nulis buat gaulislam
gara-gara nggak ada uang lebih buat ke warnet (merana banget kesannya
gue nih). But, kebetulan sekarang ini teman gue kerjanya jaga warnet
dekat rumah gue, jadi gue bisa numpang internetan gratis deh. Sekarang
gue jadi bisa nulis lagi buat gaulislam tanpa perlu khawatir sama
kantong yang bakal kekuras karena billing warnet. Hehehe. Sori nih,
tukang nyari gratisan soalnya gue. Harap maklum.
Gue dapet tugas nulis tentang persaudaraan sesama umat Islam, baik
yang ada di tanah air kita yang ‘tercinta’ ini, di negara lain dan antar
negara tentunya.
Kalo temen-temen sering pantengin tipi nih, pasti temen-temen masih
menyimpan memori kasus Ahmadiyah, yang ajarannya super menyimpang dari
Islam. Istilah kata, Ahmadiyah itu udah mah sesat, juga menyesatkan.
Jika Islam dinistakan oleh suatu kelompok (macam Ahmadiyah ini), maka
umat Islam di seluruh pelosok negeri akan bersatu untuk membela Islam,
tanpa memandang lagi dia yang pake sarung atau pake celana (sebenarnya
yang pake sarung dalemannya pake celana juga lho). Hehehe bingung ya
dengan tulisan gue? Sama. Gue juga bingung. Lha? Halah, lebay deh gue!
Kalo kamu mau merhatiin, dalam kasus ini persaudaraan umat Islam di
negara kita menjadi sangat erat dan bersatu. Seolah telah melupakan
segala perbedaan yang ada. Entah itu perbedaan guru, madzhab, suku dan
lainnya. Semua sekat perbedaan itu hilang, yang ada dalam benak kaum
muslimin adalah bagaimana umat Islam bersatu untuk membela agama Islam.
Mungkin itu salah satu contoh kecil tentang persaudaraan umat Islam di
Indonesia.
Oya, apakah hal ini hanya terjadi di dalam negeri saja? Nggak lah.
Kalo kita kembali mengingat kasus tentara-tentara Israel yang
memborbardir Palestina dengan sangat kejamnya, seperti seorang yang
sudah tak mempunyai akal dan hati, pasti kita akan melihat hal yang
serupa. Umat Islam di seluruh dunia bersatu, merasa ikut tersakiti
karena ulah tentara-tentara Israel yang tidak manusiawi itu dan mereka
memberikan bantuan kepada warga Palestina, mulai dari makanan,
obat-obatan, hingga pakaian.
Sobat muda muslim, tetapi ada juga yang perlu diperbaiki. Sebab,
dalam kasus lain, ada juga yang menggambarkan persaudaraan umat Islam
itu ke arah yang negatif. Maksudnya, persaudaraan hanya terjadi pada
satu sekolah, satu kelompok pengajian, atau satu kampus dan satu kampung
saja. Di luar semua itu, adalah beda dan harus membedakan. Padahal
akidahnya Islam. Nah, ini yang nggak benar, Bro.
Persaudaraan yang cuma terjadi pada satu kelompok saja bisa mengarah
kepada pertikaian sesama umat Islam. Pertikaian yang sebenarnya hanya
karena masalah sepele. Bisa jadi masalah beda sekolah, beda geng, beda
almamater. Pemicunya kadang hal sepele atau malah nggak perlu
diperhitungkan. Misalnya, karena cewek, karena uang, atau hal-hal kecil
yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Kayak yang sering terjadi di
dekat rumah gue nih. Sering banget terjadi tawuran antar perlajar.
Pemicunya masalah sepele kok. Cuma karena sekolah yang satu lewat lagi
naik bus terus ngeledek anak sekolah lain yang lagi nongkrong. Langsung
deh ribut. Akibatnya, tawuran yang nggak perlu terjadi itu malah memakan
korban jiwa. Duh, rugi abis dah!
Persaudaraan sesama Muslim itu penting
Semua umat Islam itu adalah saudara, kalau bukan saudara, ngapain gue
manggil Bro n Sis ke kamu semua. Iya nggak sih? Hahaha. Walaupun umat
Islam (apalagi yang beriman) antara satu dengan yang lain itu berbeda
ras, sekolah, geng, almamater, suku, bahkan negara dan hal lainnya,
tetap saja saudara satu akidah. Seperti yang difirmankan oleh Allah Swt
(yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu saling bersaudara.” (QS al-Hujurat [49]:10)
Jadi, sesama saudara itu nggak boleh ada pertikaian. Tahan hawa nafsu
yang menuju bibit-bibit pertikaian. Kalo ternyata tetap ada pertikian,
kita harus segera mendamaikannya, Bro. Jangan malah kita komporin biar
ada yang babak belur, gigi patah, idung berdarah baru kita pisahin, dan
seringkali cuma “dipisahin” doang, bukan didamaikan. Padahal, seharusnya
didamaikan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan
kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah
kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar
perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu
kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah
surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku
adil.” (QS al-Hujurat [49]: 9)
So, nggak perlu lagi deh ribut-ribut karena masalah yang
sangat sepele (menurut gue sih), apalagi yang diajak ributnya itu
saudara sendiri. Bisa-bisa nanti disamain kayak orang belum waras atau
anak kecil yang masih belepotan ingus. Makanya harus bisa nahan hawa
nafsu dan bepikir panjang ke depan. Mikirin akibatnya. Jangan cuma mikir
sesaat aja karena urusan gengsi atau harga diri (yang kadang nggak
seberapa itu).
Rasulullah saw. dan para sahabat udah memberikan contoh pada kita
tentang persaudaraan kaum muslimin dan pentingnya persaudaraan itu. Suku
Aus dan Khazraj, dua suku penting di kota Madinah yang tadinya saling
bermusuhan selama bertahun-tahun, tetapi kemudian bisa disatukan di
bawah bendera Islam dan bahkan bisa dipersaudarakan dengan kaum
Muhajirin dari Mekkah.
Kaum Anshar banyak berkorban untuk kaum Muhajirin. Betapa banyak dari
kalangan Anshar memberikan rumah, ternak, kebun, dan segalanya demi
persaudaran yang telah diikat dengan kokoh di bawah panji-panji ajaran
Islam. Pada perkembangan Islam, kaum Anshor dan kaum Muhajirin menjadi
penggerak-penggerak tauhid yang sinarnya sampai memancarkan ke belahan
Barat di Australia, Spanyol, menerangi dunia Timur sampai ke perbatasan
Tiongkok. Padahal sebelumnya kabilah/suku-suku itu tidak pernah
diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain.
Berkat persaudaraan kaum Anshar dan kaum Muhajirin, Islam menjadi
agama besar sanggup mengalahkan imperium Romawi dan kekaisaran Persia
yang selanjutnya umat Islam pada waktu itu menjadi pembawa obor bagi
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekadar saran ya, untuk nambah
wawasan keislamanmu, coba deh baca buku yang berjudul Peradaban Islam: Dulu, Kini, dan Esok
karya Dr. Musthafa as-Siba’i. Keren banget dah. Atau kalo mau yang
penjelasannya ringan, ada tuh bukunya Kang O. Solihin, editornya
gaulislam, dengan judul Yes! I am MUSLIM. Di buku setebal 388
halaman itu dengan gamblang dan mudah dipaparkan tentang kehebatan Islam
ketika umat Islam disatukan dengan akidah dan berada di bawah naungan
syariat Islam. Juga, ada tips supaya remaja muslim bangga dengan Islam
dan syariatnya. Sip banget lho!
Bro n Sis, dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan
para sahabat pada masanya, kita seharusnya udah bisa mengetahui, jika
kaum muslimin itu bersatu dan tidak ada perpecahan di dalamnya, pasti
Islam akan menjadi kuat. Insya Allah.
Tidak hanya individu
Bro en Sis, Islam itu nggak mengajarkan kita untuk menjadi seorang
individu yang maju tetapi mengacuhkan individu yang lainnya, apalagi
individu yang lainnya itu adalah saudaranya sendiri. Islam nggak
mengajarkan bagaimana supaya kita menjadi manusia yang pintar seorang
diri, kaya seorang diri, beribadah seorang diri dan meloncat ke surga
seorang diri. Nggak. Tetapi Islam mengajarkan kita untuk melakukan itu
secara bersamaan dan mengajak yang belum sadar ataupun juga belum
melakukan supaya bisa sadar dan melakukan kebaikan yang diajarkan.
Logikanya sih, apa mungkin kita bersikap acuh atau cuek bebek sama
saudara sendiri ? Kalau kita punya adik masih kecil aja pasti kita
ajarin. Mulai dari diajarin jalan, bicara, baca dan lain-lain. Kepada
saudara seiman juga sama. Nggak mungkin bisa cuek. Kalau ada saudara
yang kesusahan ya dibantu, kalo ada yang didzalimi ya ditolong. Nggak
cuek aja. Kalo saat ini marak orang-orang liberal ngacak-ngacak syariat
Islam, ya harus diingatkan, bila perlu dilawan sembari nolongin kaum
muslimin lainnya jangan sampe kena pemikiran kacau mereka. Bayangin deh
kalo pada cuek, pada boam alias bodo amat, maka yang terjadi adalah
mendekati kehancuran.
Contoh nih, kalo misalnya gue teracuni oleh pikiran-pikiran liberal,
sekuler dan lain-lain (yang tentunya bertentangan dengan islam), maka
siapa yang mau menyelamatkan gue kalau umat Islam ini hanya memikirkan
diri sendiri? Akibatnya, bisa saja satu demi satu umat Islam dapat
dikalahkan. Kalau satu-persatu kalah, yah otomatis lama-lama banyak deh
yang kalah, bisa tenggelam deh ideologi Islam ini. Karena apa? Ya,
karena kita tidak bersatu dan masih bersikap individual. Padahal kalo
bersatu, pasti hal-hal kayak gitu nggak akan terjadi deh. Ibarat satu
batang lidi, pasti dengan mudah dapat dipatahkan, tadi kalau lima gepok
lidinya, gue yakin pasti susah dipatahinnya. Setuju dong?
Jadi mulai sekarang ayo kita pererat tali persaudaraan kita. Jangan
lagi ada adu cungur dan fisik hanya karena masalah kecil dan perbedaan
yang sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan. Nggak perlu lagi deh bilang
gue anak ini, gue geng ini, gue pake sarung atau yang lainnya. Tetapi
yang perlu kita ingat adalah kita ini umat Islam dan kita adalah
saudara. Ingat kita ini sama-sama hamba Allah. Kita muslim, kita
bersaudara. Mempunyai tugas yang sama dan tujuan hidup yang sama.
Kerennya mah satu visi dan satu misi.
So, buat apa ribut-ribut (apalagi kalo yang diributin hal
sepele). Ayo kita bersatu dalam akidah dan syariat Islam. Tunjukkan
kekuatan dan kemuliaan Islam dengan kekompakkan kita sebagai mukmin dan
muslim. So pasti keren deh! [Putra: utha_freak@yahoo.com]
http://www.gaulislam.com/muslim-brotherhood
Tidak ada komentar:
Posting Komentar